Terapi Lanjutan Kanker

Eitsss habis oprasi diangkat payudara, perjuangan gak cuma sampe di situ. Masih puanjaaang😅.

Terapinya berbeda-beda tergantung kasus kita. Karena di sel tepi sayatan oprasiku masih ada tersisa sel kanker, jadi yang sisanya itu harus dibunuh.

Jadi pengobatanku selanjutnya: Radiasi 24x. Minum obat Tamofen selama 5 tahun. Setelah beres radiasi, lanjut dengan Suntik Zoladex sebulan sekali selama 2 tahun, sambil tetep rutin minum Tamofen-nya.

Kita bahas satu persatu ya…

Radiasi itu, bagian payudara yang bekas dioperasi, sampai ke dekat leher disinari dengan sinar X. Tujuannya untuk menghancurkan sel kanker. Pas radiasi, posisi badan kita tidur, terus nanti ada mesin sinarnya bergerak gitu ke posisi yang sudah diatur (custom setiap pasien). Penyinaran sekitar 3 menit aja, dan ga kerasa apa-apa. Tapiii efek sampingnya biasanya timbul setelah hari ke-7 atau lebih, yaitu bisa berupa tenggorokan kering dan sakit, sakit maag, dan kulit gosong/perih. Dan yang ga kuat, ngantrinya😅. Dari sini keliatan, pasien kanker itu buanyakkk sekaliii. Selama treatment radiasi, usahankan makan yang sehat, jaga Hemoglobin supaya bagus karena kalo Hb drop, radiasi harus distop. Akalin dengan tidur cukup, minum jus buah bit.

Obat Tamofen & suntik Zoladex, kegunaannya sama yaitu untuk menghambat pembentukan hormon Estrogen. Karna tipe kanker payudaraku adalah Luminal A, yaitu sel kankernya akan tumbuh cepat makanin hormon Estrogen. Jadi diharapkan dengan ditekannya hormon Estrogen di badanku, sel kanker ga akan dapat makanan dan jadi mati.

Efek samping Tamofen & Zoladex: tidak haid! Tidak subur. Untuk yang belum punya anak, kemungkinan ke depannya akan agak sulit punya anak. Jadi karena ga ada hormon estrogen, kita berasa jadi kaya nenek-nenek. Efek samping lainnya: ya kekuatan badan kita agak seperti nenek-nenek. Badan gampang pegel linu, sendi sering kaku. Kaki dan tanganku rutin kesemutan parah. Jari tengah tanganku kaku.

Kata dokter, bisa diminimalisir dengan minum Neurobion Forte tapi di sku ternyata ga berefek 😭😥. Aku cobain rutin olahraga yang simple aja seperti pemanasan pas jaman SD, dan banyakin jalan kaki, hasilnya lumayan mendingan. Jadi ga kesemutan parah lagi😊.

Selain terapi di atas, tentunya rutin kontrol ke dokter bedah. Aku disarankan 3 bulan sekali konsul. Dan setelah beres Zoladex, akan dikontrol dengan Petscan dan test lab Penanda Tumor.

Hasil Biopsi Eksisi / Operasi Pertama Tumor Payudara

Finally, hari yang ditunggu-tunggu, ini hasil biopsinya udah ada.

Waktu itu aku sendirian ambil ke rumah sakit, karena lagi ga ada yang bisa nemenin. Deg-degan buangeett. Tapi aku pasrah apapun hasilnya. Dan akhirnya aku buka sendiri pas masih di rumah sakit.

Hasilnya : invasive carcinoma alias ganas :). Good newsnya belum menyebar ke kelenjar getah bening di ketiak.

Tapi jenis kankernya belum jelas detail, jadi harus ditest lab lagi nama testnya imunohistokimia, gak dicover BPJS. Itu untuk tahu, apa yang memicu pertumbuhan sel kankernya.

Harus operasi sekali lagi juga untuk diangkat keseluruhan payudara kiri supaya lebih aman, sekalian mengambil sisa kankernya karena ternyata di batas sayatan operasinya ada sel kanker. Catatan: di sini ga dijelasin ukuran sel kankernya, jadi aku minta penjelasan ke bagian lab, dan dijawab ukuran sel yang ganasnya masih kecil sekitar 1.2cm.

Jadi kesimpulannya, yang perlu dioperasi dan diangkat keseluruhan hanya payudara kiri aja yang ada keganasan. Payudara kanan yang ada kista kecil² ga perlu diapa²in, cuma ya rutin kontrol aja.

Hasil biopsi jarum koq bisa salah?

Ya jadi gini… di dalam payudara kiriku itu ada macam² tumor. Ada yang jinak dan ada yang ganas. Nah, waktu biopsi jarum kebetulan yang terambil itu bagian yang jinaknya. Padahal udah di 3 titik. Ternyata, posisi sel kankerku itu menyumput di belakang tumor jinak. Mungkin ini juga alasan kenapa pas di USG agak samar dan meragukan, karena kehalangan sama tumor jinak.

Biopsi Eksisi / Operasi Angkat Tumor Payudara Kiri

Maret 2020 jam 9 pagi, hari Sabtu, aku dioperasi. Dokter Maman yang mengepalai. Aku dibius total dari hidung. Jujur, excited hahaha. Dari kecil gak pernah diopname di rumah sakit, ini perdana diopname malah buat dioprasi.

Malam sebelumnya disuruh puasa dari jam 1 subuh, minum air putih juga gak boleh. Alhasil luaperrr. Jam 6 pagi suster sudah datang, aku disuruh ganti baju operasi yang ijo-ijo itu loh yang bagian punggungnya kebuka cuma tali-tali, haha.

Sebetulnya jadwal oprasiku harusnya jam 7, tapi ternyata dokternya ada kepentingan di pasien lain jadi oprasiku baru bisa jam 9.

Masuk area oprasi, dingiinnn. Gak langsung mulai, nunggu dulu sambil tiduran di bed kira-kira 30 menit. Kedengeran banyak aktivitas suster dan dokter ngobrol-ngobrol. Mulai deh deg-degan, aku bawa doa aja deh 🙂 .

Dannn tiba giliranku oprasi. Masuk ke ruangan operasi. Lebih dinggiin lagi. Lengan langsung dicolok infus dan beberapa selang, hidung ditancepin obat bius. Dalam 30 detik, blekk langsung pandangan gelap, hilang kesadaran. Mantapp deh obat biusnya.

Beres operasi, perlahan-lahan sadar di ruang pemulihan. Badan menggigil dingin bangettt sampe gigi gemeteran. Setelah kesadaran cukup pulih, aku dibawa lagi ke kamar inap. Dan belom boleh makan & minum, hadeuh wkwkwkkw padahal udah keroncongan. Kalo ga salah musti tunggu 2 jam.

Pas minum beberapa teguk, keringet langsung bercucuran. Minum lagi, tambah keringetan luar biasa. Jadi ga berani makan dulu, 1 jam kemudian baru berani makan sedikit-sedikit aja. Udah diinfus obat mual juga, jadi ga terlalu takut, ga akan muntah mustinya.

Operasi dan semua obatnya dicover BPJS full. Beneran gak bayar apa-apa sama sekali dari awal diopname sampe pulang. Thank you, Rumah Sakit Santosa Kebonjati. Pelayanan juga cukup baik, gak membeda-bedakan dengan pasien umum.

Waktu itu awal pandemi, rumah sakit sepi. Kamarku harusnya untuk 3 pasien tapi bed lainnya kosong, jadi berasa kamar VIP deh, hehe.

Ini penampakan kamar & makanannya. Oh ya, viewnya dari jendela juga baguus.

Oke, to the point sekarang foto tumornya.

Agak serem ya guysss…

Ini 1 jaringan besar ya diambil, ada sedikit otot juga, bukan semuanya tumor..ga gitu ngerti juga sih aku. Pokonya nanti itu semua dicek ke lab.

Jaitan bekas operasi

Jadi, mustinya luka operasiku pake benang yang menyatu sama daging, tapi ternyata katanya darahku ga berenti-berenti, jadi terpaksa deh harus pake benang yang kaya Chucky gini.

3 hari setelah operasi, aku boleh pulang. Beberapa hari kemudian konsul ke dokter Maman dan cabut benangnya.

Biopsi Jarum untuk Tumor Payudara / FNAB

Setelah USG di akhir 2019, aku konsultasi ke Dokter Maman di RS Santosa Kebonjati. Dia bilang untuk USG ulang 2 bulan lagi. Dan ternyata hasil USGnya tetap mirip, jadi kita lanjut ke Biopsi Jarum (FNAB) di RS Santosa juga.

Untuk pengobatan aku menggunakan BPJS Kesehatan, tapi khusus biopsi jarum ini gak dicover BPJS, waktu itu biayanya sekitar 800ribu. Booking dulu ke Lab Sandia di lantai dasar, jadi nanti ditusuk jarumnya di dalam labnya oleh dokter khusus, Dokter Birgitta.

Aku kira, bakal ditusuk berkali-kali di semua sisi payudara kiriku, ternyata ngga. Cuma 3 kali dan surprisingly ga terasa terlalu sakit. Cuma ya kaya ditojos jarum agak dalem dan agak diputar, tapi jarumnya kecil koq. Waktu itu, dari puting keluar cairan kekuningan juga, jadi sekalian diambil cairannya untuk diperiksa di lab.

Beberapa hari kemudian, hasilnya keluar. Dann jenjengggg…….

Hasilnya mengatakan JINAK. WHAT THE??? Bingung harus senang atau sedih, akurat atau nggak nih hasil biopsinya?

Abis itu konsul lagi ke Dokter Maman, dia bilang untuk memastikan ya biopsi operasi aja alias diangkat tumornya trus tumornya dibelah-belah dicek di lab isinya apa. Tapi karena hasil biopsi jarum yang jinak, sepertinya kemungkinan 70% mah tidak ada kanker. Yowiss aku sih pasrah ajah apapun hasilnya. Next post soal Biopsi Operasi ya…, atau nama lainnya Biopsi Eksisi.

Hasil USG (Perbandingan Kista vs Kanker)

Hasil USG tahun 2019, saat terdiagnosa seperti ada keganasan di payudara kiri, sedangkan di payudara kanan tumornya berupa kista (cair) jinak.

IMPORTANT UPDATE!! Aku terdiagnosa Kanker Payudara!

Yes, maaf baru sempat update di blog ini. Baru bisa berpikir tenang dan masalah-masalah besar baru selesai.

2 tahun terakhir ini sulit sekali aku lalui. Banyakk banget masalah. Mulai dari awalnya, persiapan menikah yang menyita banyak waktu dan membuat banyak perdebatan, pandemi covid, ehh ternyata pas aku USG payudara samar-samar hasilnya terlihat ada keganasan.

Kok bisa tau kena kanker? Kok bisa jadi ganas? Bukannya selama ini kalo rutin USG tuh hasilnya selalu jinak?

Ya, itu juga yang jadi pertanyaan dalam pikiranku.

Jadi gini, selama ini kalo aku USG payudara itu, hasilnya suka berubah-rubah di benjolan yang paling besar di payudara kiri. Walapun selama itu selalu hasilnya jinak, tapi kadang terdeteksinya padat, kadang cairan. Nah, koq aneh ya pikirku…jadi malah membuat aku ga terlalu percaya dengan hasil USG. Masa sih, tumor itu berubah-ubah terus? Dari padat jadi cair, terus jadi padat lagi, jadi cair lagi?

Tapi kalo aku tanya ke dokter-dokter, semua yang lihat hasil USG ya setuju aja. Karna hasil USG ga mungkin bohong. Yang cair dan padat jelas keliatan berbeda. Ini bikin aku jadi malas USG, karena aku pikir kan yang penting hasilnya selalu jinak ya… jadi terakhir itu aku USG selang 2 tahun. Dan itu bisa jadi sebuah kesalahan fatal.

Kok bandel baru USG setelah 2 tahun?

Iya, tapi keadaanku saat itu juga lagi susah. Beneran. Sakitku tuh gak cuma tumor payudara aja. Jadi sekitar 3 tahun lalu, aku didiagnosa PCOS. Bukan penyakit yang parah, tapi mengganggu sekali dan pengobatannya bener-bener susah. Terus didignosa TMJ juga, ketauannya karena kupingku berdengung (tinnitus). Detailnya mengenai 2 penyakit ini akan aku post di halaman lain ya 🙂

Intinya, saat itu otomatis aku konsen sembuhin 2 penyakit itu dulu. Nah, jadi soal tumor payudara terabaikan. Apalagi waktu itu ada rencana mau menikah di tahun 2020, jadi super sibuk dan pusing.

Nah, karena mau menikah, aku sempatkan deh USG payudara di akhir 2019. Aku pikir, ya cuma untuk make sure aja bahwa tumornya tetep jinak. Ada kepikiran juga pengen dibuang tumornya karena takutnya nanti kalo punya anak dan menyusui, jadi bermasalah/sakit karena ada tumor. Jadilah USG ke Dokter Bobby seperti dulu, di Jalan Dipatiukur. Beneran, saat itu gak ada kepikiran bisa jadi ganas, tenang banget dan santai.

Begitu di USG, kok aneh… Dokternya kaya lama sekali nge-USG nya. Kaya sampe ngulik banget gitu sampe didengerin suaranya. Ahhh tapi aku masih santai ajah. Dan tiba-tiba dokternya tanya, kapan terakhir kamu USG? Aku bilang 2017. Langsunglah dia marah!

Kenapa selang 2 tahun?? Udah tau kamu ada tumor? Ini sudah berubah, keliatannya ada keganasan!

Hahh?? Sport jantung akuu…waktu itu ditemenin calon suami. Langsung aku nangis sesegukan. Aku jelasin ke dokter, selama ini aku ada sakit yang lain jadi memang terbengkalai soal tumor ini.

Akhirnya dokternya malah menghiburku 🙂 . Dia maksudnya cuma negur aja, dan dia jelasin bahwa saat ini pengobatan kanker payudara udah sangat maju, sangat bagus. Jadi ga perlu ketakutan.

Dia anjurkan aku untuk biopsi jarum dulu, untuk lebih memastikan keganasannya. Karena di hasil USG agak samar, jadi Dokter Bobby juga masih ada keraguan apakah betul itu ganas. Next post aku akan share soal hasil USGnya ya.

Review Vacuum Cleaner Mamibot

Baru-baru ini aku beli vacuum cleaner ini. Memang aku mau rajin sedot debu di kasur, karena memang aku alergi debu dan tungau. Nah, denger-denger vacuum ini walau ga dicolok ke listrik tapi kekuatan sedotnya kenceng.

Continue reading “Review Vacuum Cleaner Mamibot”

Jangan Makan Kerupuk!

Kamu Diabetes, PCOS? Pengen langsing? Hindari Makan Kerupuk!

Yup, aku ini pre-diabet dan PCOS. Keluargaku memang punya riwayat diebetes, jadi makanan memang harus dijaga. Selebihnya soal PCOS akan aku bahas nanti ya. Intinya penderita PCOS juga harus diet seperti penderita diabetes.

Papahku diabetes juga, selama ini yang dia tahu hanya harus hindari gula dan makanan manis. Kenyataannya ngga hanya itu loh. Karena makanan yang kadar gulanya tinggi belum tentu terasa manis saat kita kunyah.

<!–more–>

Tentunya untuk lebih jelasnya konsultasi ke dokter ya😊, apalagi kalo mau merubah pola makan aku anjurkan HARUS DI BAWAH PENGAWASAN DOKTER. Aku di sini hanya share sedikit ilmu yang aku tau dari pengalaman pribadi.

Ada istilah glycemic index (indeks glikemik). Gausah pusing dulu sama istilah ini ya😊tujuan dibuatnya juga untuk mempermudah kita koq. Kalo dipersimpel, indeks glikemik adalah kecepatan suatu makanan dalam menaikkan kadar gula darah. Ada makanan yang bisa cepat melonjakkan gula darah, ada juga yang tidak. Jadi makin tinggi angkanya, makin buruk untuk penderita diabetes. Karena makanan yang baik itu adalah yang tidak terlalu melonjakkan gula darah.

Jadi, patokannya gula putih itu indeks glikemik (GI) nya 100. Nah, dari situ dikelompokkan lagi:
Low GI <55
Medium GI 56-69
High GI >70

Kamu bisa cari di google, kalo kamu ketik makanan low gi pun sudah langsung banyak hasilnya. Nah, intinya kita lebih baik perbanyak makanan Low GI. Yang medium boleh tapi dibatasi, High GI sebisa mungkin dihindari, atau kalau mau makan sedikit sekali.

Nah, aku dulu pernah dapat brosur tabel glikemik, di sana yang paling bikin aku kaget adalah KERUPUK ACI yang GI nya amat tinggi melebihi nasi putih! Sayang brosurnya hilang.😭

Aku juga browsing di internet, kalori 6 kerupuk aci (uyel) sama dengan 2.5 porsi nasi putih! Trus ga cuma kerupuk aci ya. Lebih baik hindari kerupuk udang, opak, emping dan segala macam keripik.

Dari situ aku sadar, dulu tuh aku tiap hari selalu makan kerupuk aci banyak sekali, makan nasi putih juga banyak, makanya PCOS ku kambuh. Dan ada kenalanku, seorang bapak yang punya pabrik kerupuk aci. Dia setiap hari pasti makan banyak kerupuk, wong stok kerupuknya ga abis-abis yaa, hehe. Dan dia diabetes parah sekali. Tanpa tahu bahwa si kerupuk itu bisa jadi memperparah penyakitnya.

Temenku yang dokter gizi juga kasih tau, bahwa semua makanan yang bertepung dan digoreng itu akan menaikkan GI. Proses memasak yang berbeda bisa bikin GI suatu makanan berubah. Nah, jadi hindari gorengan ya. Termasuk ayam goreng tepung, perkedel, sayuran yang digoreng tepung dll.

Yang terbaik, ganti nasi putih dengan nasi merah, karena glikemiknya lebih rendah. Perbanyak konsumsi protein dan sayuran karena protein membantu mengontrol gula darah. Daging, ikan, telur itu glikemiknya 0. Sayuran berdaun hijau glikemiknya rendah, nutrisinya tinggi dan kaya serat. Serat dalam sayuran juga menurunkan gula darah.

Hindari sambel, karena sambel biasanya pakai gula cukup banyak. Makanan yang berbumbu lekoh juga biasanya pakai banyak gula. Hindari minuman manis, soft drink, sirup, cake dsb.

Makanlah yang proses masaknya minimal. Misal nasi merah + tumis sayur + steak. Ngemil buah yang Low GI. Terakhir, aku sih say goodbye ke kerupuk. Kerupuk itu ga berguna apa-apa di tubuhmu koq. Jadi sayangi badanmu, makanlah yang berguna baik untuk tubuhmu.😊

Review Sikat Gigi Swissdent

Dari dulu aku pengen punya sikat gigi yang kepalanya kecil supaya bisa gampang nyikat gigi paling belakang 😭😭😭tapi gak ada yang jual. Akhirnya, sekarang ada si Swissdent ini❤.

Cerita dikit ya. Jadi aku tuh TMD, posisi rahangnya gak normal/bergeser. Sekarang lagi treatment ke dokter gigi. Tapi karna rahangku begitu ya jadi gak bisa mangap (buka mulut) terlalu besar. Plus di antara gigi gerahamku celahnya itu agak lebar jadi sisa makanan suka nyangkut di situ.

Nah, perjuangan banget deh buat nyikat gigi belakang😭. Selama ini aku pake sikat gigi Oral B yang untuk anak. Tapi tetep susah.

Finally..finally.. (aku beneran bersyukur loh!) Ada sikat gigi ini di Indo.

Continue reading “Review Sikat Gigi Swissdent”

Review Sisir The Wet Brush

Share soal sisir favoritku❤. Gambarnya aku suka❤. Dan yang penting ujungnya lembut jadi ga sakit ke kulit kepala.

Continue reading “Review Sisir The Wet Brush”